rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Jumat, 28 November 2014

A home away from home





Judulnya berasa judul film ga sih? Ahaha... ga papa lah. Yang penting nulis.
         Jadi gini, berawal dari gaya hidup anak kosan yang kerjaannya kuliah pulang kuliah pulang di (baca: KUPU-KUPU). Hidup udah terasa enak banget. Tiap bulan tinggal nunggu kiriman. Ga pernah mikir gimana susahnya nyari duit. Ah fatimah! Asli ga guna banget hidup lu. Sempet kepikiran buat bilang sama orang rumah untuk jangan transfer. Tapi.... lagi-lagi belum berani. Takut inilah, takut itulah. Aku sadar, itu semua karna aku ngerasa comfort zone lebih baik buat aku. Meski pada dasarnya aku ini pribadi yang suka ngambil risiko.  Ini mental si anak singkong? Ah payah!
Dan dunia kuliah kebidanan yang semula ku anggap enak, berubah... ketika jadwal praktik padat. Kontak dengan banyak pasien, dengan berbagai lapisan masyarakat yang ternyata merubah cara pandangku tentang hidup.
Sering banget mikir, kenapa orang lain bisa gini, kenapa orang lain bisa gitu. Tapi kok, aku gini-gini aja?
Hingga pada akhirnya aku menjalani Praktik Peningkatan Kesehatan Masyarakat Desa.
Pernah nonton acara tv ‘Jika Aku Menjadi’? nah, kurang lebih seperti itu tapi aku datang dengan misi meningkatkan kesehatan masayarakat desa. Kebetulan waktu itu aku di masukin ke desa Cibedug, Cikole Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung barat. Tempatnya agak sedikit pedalaman.


          Banyak banget pengalaman yang mungkin ga akan pernah bisa aku dapetin di tempat tinggal aku. Salah satu pengalaman yang bisa di bilang bikin aku shock adalah pada saat bapak RW setempat menceritakan bahwa hampir semua anak bayi di desa itu kalo sakit diare/mencret di kasih madu yang di campur genteng (baca: atap rumah) yang dihaluskan. Bayangkan! Bayangkan permisah! seorang bayi diberi makanan seperti itu. Bahkan kita orang dewasa sekalipun mungkin ga akan pernah mau nyoba makanan kek gitu. Ini PeEr besar buat kita hey para laskar medis. Bukan karna mereka ga mampu atau ga bisa beli obat. Bukan. Tapi lebih karena kurangnya pengetahuan masyarakat desa pedalaman tentang kesehatan.
          Next, aku ngeliat anak kecil yang unyu-unyu lari-lari ngejar ayam.. di tangkep, terus di ‘umek-umek’ halah... bahasamu fat. Haha. Ya itulah pokoknya... apaya kalo bahasa indonesianya itu di remes-remes. Ya semacam itulah... nah, udah mainin ayam, terus dia makan kue lemper tanpa cuci tangan. What? Ohemji. Sontak aku langsung menuangkan Antis (asli gw ga di bayar buat nyebutin merk). aku ajarin dia cuci tangan yang bener. Cuci tangan. Yap, cuci tangan yang keliatannya sepele itu ternyata sangat bermanfaat bila kita bisa mengajarkannya pada orang lain. Senyum manis dengan gigi tengah yang ompong dari anak itu mengembang setelah selesai aku ajarkan cuci tangan, ah... bahagia itu sederhana ternyata.
Hari pertama disana sudah sangat berkesan sekali selain udaranya yang ramah,  orang-orangnya juga sangat bersahabat. Walaupun ada beberapa kepercayaan yang mereka anut yang sebenernya membuatku tak nyaman, seperti membuat sesajen de el el.
          Hari kedua melanjutkan misi... aku dan teman-teman melakukan pendataan, pemetaan wilayah, dan pengolahan data yang di dapet. Ini memakan 3 hari lamanya. Pagi sampe siang. Sorenya kita ngadain kegiatan bareng Senam Jantung Sehat bersama instruktur senam Poltekes TNI AU Bandung yang tersohor seantero kampus. Shinta. Perempuan item manis berdarah sunda yang lincah dan lihai soal per-senam-an menjadi artis dadakan di desa saat itu. Uhuuuy... :D kalo aku? Ya aku bisa sih jadi instruktur senam, tapi engga ah. Kalo aku jadi populer gimana? Aku belum siap untuk terkenal. Haha
          Sampe hari ke-4 kita ngadain kegiatan MMRW (Musyawarah Mufakat Masyarakat Desa) acaranya yaitu menampilkan beberapa permasalahan kesehatan yang diada di desa itu sekaligus mencari solusi bersama. Waktu itu masalahnya ada 4. Yang pertama tidak adanya dana sehat, penggunaan KB hormonal lebih dari 5 tahun, Kurangnya kesadaran imunisasi TT (tetanus toxoid), dan pemberian Makanan Pendamping ASI pada bayi kurang dari 6 bulan. Setelah rapat bla bla bla, lanjut makan-makan... nah, ini kegiatan yang paling aku suka. Haha. Secara lembang itu dingin joww... bawaannya pen makan mulu.
          Hari ke-5 aku ngider ke rumah kader di desa itu yang kebetulan piara sapi dan sore itu aku diberi kesempatan unutk mencoba memerah susu sapi. Rasanya... gurih-gurih enyoy. Haha. asli gw ga pernah ngelakuin ini sebelumnya. Tapi asik kok. Percaya deh. Dan udahnya aku dibekelin susu sapi.  sorenya aku berkebun. Manen sayur-mayur.
          Hari ke-6 kita ngadain acara lomba menggambar dan mewarnai bareng anak-anak 10 tahun ke bawah. Mereka antusias sekali. Kamipun menyelipkan misi kesehatan yang kami emban. Sambil lomba sambil bermain kami mengajarkan bagaimana cara cuci tangan yang benar, sikat gigi, dan priksa golongan darah gratis. Karena banyak sekali masyarakat disana yang tidak tahu golongan darahnya. Pengecekan golongan darah ini di barengi dengan tensi dan penimbangan gratis. Dan berlangsung selama 2 hari. Karena masyarakat disana banyak sekali. Aku menjadi petugas cek pemeriksaan golongan darah pada saat itu. Sambil bekerja sesekali aku bercengkrama dengan mereka. Mereka itu masyarakat yang sangat baik.
          Hari ke-8 aku explore desa, menyusuri setiap bukit, kandang sapi, dan kebun hingga kerumah warga memeriksa ibu hamil. Hari itu hujan tapi semangat kami tiada redup sedikitpun kawan! medan licin nan curam tak jarang kami temui. Aku bahagia saat berjuang dengan orang-orang yang luar biasa. Itu memberikan pengalaman tersendiri untukku.
          Hari ke-9  masing-masing dari kami mencari kasus kesehatan untuk dijadikan bahan ujian. Dan aku mendapatkan kasus keluarga dengan ibu akseptor KB hormonal lebih dari 5 tahun. Yes. Setidaknya aku menguasai materi ini secara mendalam. Padahal aku bukan pengguna KB, tapi karena pengalamanku di rumah sakit menemui banyak pasien yang tak jarang curhat mengenai KB sedikitnya aku memahami apa yang mereka rasakan.
          Hari ke-10 aku ujian. Detik-detik menegangkan rasanya dag dig dug duar. Entah kenapa setiap kali ujian selalu ngerasa deg-deg-an padahal ini bukan kali pertama aku ujian. Dari kelas 1 SD aku selalu melakukan yang namanya ujian. Ah. Mungkin memang begitu hukum alamnya. Alhamdulillah ujian pada hari itu semua berjalan lancar. Ujian selesai, dosen pergi, aku tersenyum dan memeluk pasienku serta tak lupa untuk berterimakasih.
          Hari ke-11 adalah hari terakhir kami berada di tempat itu. Kami mengadakan pesta rakyat, tak jarang kami mahasiswa diminta untuk tampil. Akhirnya kamipun tampil Untuk sekedar bernyanyi dan menghibur mereka. itu tidak sepadan dibanding dengan kesempatan yang mereka berikan pada kami untuk tinggal di desa itu dan mengaplikasikan ilmu kami serta mencicipi bagaimana rasanya menjalani kebiasaan masyarakat desa.
          Hari ke-12 bis dari kampus datang untuk menjemput kami. Tiba saatnya kami untuk pulang ke tempat kami masing-masing. Semua warga datang berbondong-bondong untuk memeluk kami satu persatu mengantar kami pulang, membawakan kami berbagai macam buah tangan khas pedesaan. Ada anak kecil yang menarik-narik rok-ku sambil merengek memintaku untuk tidak pergi. Ku gendong anak itu ku hibur sampai akhirnya ia merelakanku unutk pergi, terlihat sekali sorot mata kehilangan yang dirasakan anak itu karena kepergianku. Sambil menangis suesunggukan ia bilang “kaka... kaka fatimah. Janji ya dateng lagi kesini. Bawain azam mobil remot kontrol kayak yang ada di tv. Nanti azam tangkepin ayam buat kaka.” Aku tersenyum sambil memeluknya “ia azam sayang, nanti kaka dateng lagi kesini bawain mobil remot kontrol kaya yang di tv.”
          Berat sekali rasanya kakiku melangkah meninggalkan mereka semua yang sudah menjadi keluargaku. Yap, i found new families there, i found love, and i found a home. A home away from home. :’) 12 hari yang tak terlupakan selalu tersimpan rapi dalam memori dan akan menjadi cerita indah kelak. Terimakasih duhai Allah, terimakasih telah memberiku kesempatan unutk bertemu dengan mereka yang luar biasa itu.  
 

                                                 *foto bersama anak-anak desa cibedug RW 13

                                                      *panitia di belakang layar

Posting Komentar