rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Kamis, 05 Mei 2016

GET LOST IN THAILAND part 1

     
"Sawasdee....." sapa hangat dari seorang wanita setengah baya ketika pertama kali aku turun dari pesawat. Kulempar senyum hangat padanya. Terdengar juga suara-suara dengan bahasa yang tidak aku mengerti dari berbagai pengeras suara yang ada di bandara Dong Mueang, Thailand. Aku tersenyum dan sedikit tertawa mengikik. Lucu rasanya bisa mendarat di sini. Di Negara, Tempat dan Bahasa yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. 

     10.45 Waktu Thailand aku mendarat. mengamati sekitar dan antree di depan platform "FOREIGNS PASSPORT CHECK" didepan meja aku menatap petugas imigrasi wanita yang meminta kertas berisi informasi tentang data diriku, dimana aku akan tinggal, pesawat apa yang telah aku tumpangi.
kusodorkan kertas itu, beberapa saat kemudian dia balik bertanya tentang kolom yang berisi informasi dimana aku akan tinggal selama aku di Thailand.
sengaja aku kosongkan karna aku mendapat alamat dimana aku akan tinggal dalam bahasa dan tulisan thailand. haha. aku hanya berkata "I wanna write this (sambil nunjukin tulisan Thailand itu) but i can't. could you help me please?" sambil memelas. Dia melihat tulisan di HP ku, tersenyum dan berkata "ahaa..., yes. sure you can't. because you're not a Thai." dan akhirnya dia membantu.

problem solved. selanjutnya berburu simcard untuk HP, setelah dapat aku langsung menghubungi host couchsurfing ku di thailand. ternyata beliau sudah ada di luar gate 2 menungguku. ku panggil ia Uncle. karna namanya yang sulit diucapkan oleh lidah ke-indonesia-an-ku ini, maka ku sebut ia Uncle saja. haha
di sudut pintu aku menemukan Uncle menyambutku dengan senyuman hangat ia mencoba mengeja namaku "Fa... fa.. fa...", "FATIMAH" ku lanjutkan sambil menjabat tangannya. Ia tertawa kemudian mengajaku masuk kedalam mobilnya, di mobil aku melihat sesosok gadis memakai kaos putih, namanya Mo, ia adalah anaknya Uncle. Mo memanggilku "Faa... it means sky in Thai" katanya. Okey, mulai sekarang namaku di Thailand adalah Faa yang artinya langit. itu mudah diingat, diucapkan and it sounds good :)

mungkin ada yang bertanya-tanya bagaimana aku bisa ke negara ini?, dengan siapa?, tinggal dimana?, dan mau apa?. baiklah, akan kucoba jelaskan disini... aku datang dengan ke negara ini karena aku dapat tiket sangat murah ke negara ini, 900 ribu rupiah pulang-pergi. aku pergi sendiri. aku tinggal dengan menggunakan couchsurfing, untuk yang belum tau apa itu couchsurfing. jadi, couchsurfing itu adalah web dan komunitas dimana kamu bisa menemukan host, traveler, guest from around the world. yep... bisa di tebak. aku tinggal dengan host couchurfing dari Thailand, aku melihat kesempatan ini sebagi wadah agar aku bisa tinggal dengan orang lokal setempat, mempelajari tentang budaya, bahasa, makanan, kebiasaan dan cara hidupnya. apa yang akan aku lakukan disini? aku hanya solo backpacker yang ingin mengeksplor negara yang terkenal dengan simbol gajahnya ini selama 5 hari 4 malam. kemana aku pergi? jangan tanya, karna akupun tak tahu. semua yang kujalani di negara ini semuanya spontan. tidak ada daftar list spesifik jam, cara dan tempat mana yang ingin aku kunjungi yang aku siapkan jauh-jauh hari. hanya ada 1 tempat yang sudah kubeli tiketnya sejak masih di Indonesia. sisanya random, acak dan spontan.


Uncle mengajakku ke Chatucak Market, pasar yang hanya buka di hari minggu. sementara ia dan anaknya Mo menungguku di dalam mall yang tidak jauh dari Chatuchak Market. menurutku pasar ini seperti pasar tradisional Thailand dimana tempat ini banyak menjual berbagai macam hal. mulai dari Makanan, Pakaian, Kerajinan Tangan, Jajanan jalanan, Ikan, Serangga, dan berbagai souvenir lainnya.
aku senang bisa ke tempat ini, tempat dimana aku bisa berinteraksi dengan warga lokal. berinteraksi dengan cara yang tidak biasa. kadang kami berbicara lewat kedipan mata, jari, kalkulator dan gerakan tubuh. haha. lucu rasanya berbelanja ditempat ini. kuberi tips.... bila kau menemukan pedagang ditempat ini yang saat pertama kau ucapakan bahasa inggris dan dia membalas dengan bahasa uniknya, jangan lanjutkan percakapan karna itu akan membuang-buang energimu. gunakanlah bahasa tubuh yang sebisa mungkin menjelaskan apa yang ingin kau coba jelaskan. percayalah kawan.... ini menyenangkan! :))

Barang-barang seperti ini bisa di temui di Chatuchak Market yang hanya ada setiap hari minggu

Makanan wajib coba

So sad, but true.

Banyak pedagang yang menjual berbagai macam pakaian

Makanan warteg ala Thailand

Daftar menu yang ditempel di dinding

Fish Ball. kalo di Indonesia seperti otak-otak

Manggo Sticky Rice

Belalang Goreng. Street food.

Bilatung Goreng. Street Food

Ulat Goreng. street food.

Jangkrik Goreng. Street Food

Mencoba Belalang Goreng
Menggigit belalang goreng
Belalang Goreng masuk ke tenggorokan

Penampakan Sang Belalang Goreng




 
dipasar ini aku bertemu dengan seorang backpacker Indonesia yang beberapa waktu lalu aku temui lewat website backpacker Indonesia. senang rasanya bertemu dengan spesies dari tanah air yang sama. haha.
namanya Brikson, lelaki berusia 25 tahunan... mungkin. aku lupa. kurang lebih umurnya segitu. ia kah? entahlah. haha. Ia memulai perjalanannya dari Indonesia lalu Malaysia dan kemudian Thailand. 
Brikson adalah gembel  traveller yang ramah, fleksibel, periang, dan menyenangkan. darinya aku belajar banyak. oh hey! tunggu dulu. kurasa belum saatnya aku memberi kesimpulan pada makhluk ini. haha. tunggu sampai kau selesai membaca tulisan ini. :)
 

setelah puas aku mengelilingi Chatucak Market, aku menemui Uncle di dalam mall yang kulihat sepertinya ia dan anaknya sangat menikmati hawa dingin dari air conditioner di dalam mall itu, berbeda dengan hawa panas terik di Chatuchak Market. aku menghampiri uncle dan anaknya sambil mengenalkan Brikson. serta meminta izin agar memperbolehkan Brikson ikut ke rumahnya. mereka bertanya bagaimana aku bisa bertemu Brikson? dan apakah Brikson temanku dari Indonesia? ku jawab, ini adalah kali pertama aku bertemu Brikson, dan aku belum pernah bertemu dengannya. begitupun Brikson kepadaku.  dan kami mengontak satu sama lain lewat website backpacker Indonesia. Uncle mengagguk-angguk sambil tersenyum. tampaknya ia mulai paham dengan kehidupan random yang kujalani sejak pertama kali kuinjakan kaki di negerinya ini. 
Aku dan Brikson

sesampainya di rumah Uncle aku bertemu dengan keluarganya yang super ramah. aku disuguhi berbagai makanan, bercanda tawa dengan anak-anaknya, dan di beri tips serta trik bagaimana cara ngebolang yang baik dan benar di negerinya itu. ku sambut dengan senang hati, kuterima saran dan rekomendasi tempat yang harus aku kunjungi yang ia berikan. tak lupa aku memberikan berbagai souvenir yang sengaja aku bawa dari Indonesia. "Khab Khun Kha...." kata Uncle sambil tersenyum, "it means thank you in Thai" kata Mo berusaha menjelaskan "and you should say Khab Kun Krab" lanjutnya sambil tersenyum. "Ah... I see. Khab Kun Krab Uncle." kataku sambil tersenyum. sambil menikmati durian Thailand yang rasanyaaaa.... onde mande alamahoii sedhaap sekali, kuberi kode Brikson agar ia mencicipi durian Thailand ini, tapi dia menolak dengan alasan perutnya sedang tidak beres. sayang sekali. kalo soal gratisan, sinyal backpacker kere low budget ini memang selalu aktif sejauh apapun radarnya. haha. Oia, aku tinggal di rumah Uncle juga gratis loh. termasuk dijemput dari bandara juga gratis. haha. senang rasanya berada di tengah-tengah keluarga ini. they are a smily family and soooo friendly. it feels like i'm really at home. home away from home. :')

dari kiri ke kanan : aku , Aunty, Sister, Unle, Brikson dan Mo

ga kerasa udah sore, aku dan Brikson izin sama keluarga Uncle untuk keluar. 
bermodalkan HP dengan google map, dan aplikasi-aplikasi penunjang ngebolang lainnya, kami menuju Khao San Road. tempat yang katanya katanya pusat para bule. dari tempat Uncle kami naik bus. jadi kata Uncle di sini hanya ada 2 tipe bus. versi Uncle: 1. AIR BUS (bis dengan AC di dalamnya) dan 2. NO AIR BUS (bis yang tidak ada AC dialamnya). 
 
sampai di Khaos San Road kami jalan menyusuri jalanan disana, tempat ini kalo di Bandung nampak seperti Jalan Braga (google deh kalo ga tau). diujung jalan ini kami menemukan sebuah tample yang epic, terlihat dari bangunannya yang sangat khas. karna waktu itu sudah sore, maka tempat ini terlihat sepi. tapi karna itu pula tempat ini terasa seperti sangat damai dan .... entahlah aku tak menemukan kata yang cocok untuk menggambarkan keadaan ditempat ini, yang jelas tempat ini sepi dan damai. setelah puas mengambil beberapa gambar di tempat ini, kami keluar dari pintu yang berbeda. yang menghantarkan kami ke jalanan yang ramai dengan nuansa lampu-lampu hiasan yang terang dan cantik. sangat menyenangkan berjalan di bawahnya. berasa lagi catwalk di red carpet. maaf, iya... aku emang alay dan lebay kali ini. haha.

Brikson dan Khao San Road




Salah satu bangunan yang ada di Khao San  Road


Brikson belanja. haha


Salah satu temple yang ada di ujung jalan Khao San Road


memperhatikan anjing yang "katanya" suci


Bangunan di Luar Temple


perut mulai keroncongan. di saat seperti ini, sungguh. yang terbayang adalah nasi padang yang menggunung. tapi pada kenyataannya, liat menu resto di sepanjang jalan adalah pork / babi dan minuman beer beserta family-nya. duh, ini sebenernya kesulitan seorang muslim ketika berada di negara yang mayoritasnya bukan muslim. buat Brikson ini ga masalah, tapi berbeda dengan aku. Brikson memutuskan untuk ikut makan dimana aku akan makan. cara Brikson menghargai agama yang aku anut membuat hati ini merasa  berterimakasih pada Yang Maha Kuasa telah mempertemukan aku dengan Brikson. aku banyak belajar dari beliau. aku merasakan toleransi antar agama yang sesungguhnya. bukan tentang apa warna kulitmu, bukan tentang dari suku mana kau berasal, dan bukan juga karena berapa banyak harta yang kau miliki. tapi tentang rasa persaudaraan yang tulus yang tidak bisa diukur dengan penggaris, rumus alogaritma, atau hukum newton apapun. terimakasih. :)

akhirnya kami duduk dan menyantap makan malam kami di salah satu resto Thailand yang menjual menu Tom Yam Kung (Kung adalah sea food), setelah jalan jauh beberapa kilometer saja, Brikson memesan nasi, dan beberapa menu lainnya. aku mencoba memahami, mungkin ia memang lapar. kasian. haha. tampaknya ia memang tidak biasa meng-gembel. Tapi karna ia bertemu gembel macam aku ini, jadi apa boleh buat lah... 
aku lupa apa nama resto ini, yang jelas sangat tidak recommended karna pelayannya yang tidak mengerti bahasa inggris dan (mungkin pemiliknya) yang agak galak. aku ga paham apa yang ia katakan, tapi dari cara ia berbicara sepertinya ini baru pertama ia menerima pelanggan yang bukan orang Thailand. entahlah... beres makan, kami bayar, dan pergi. ga betah lama-lama rasanya ditempat itu.

kami menyusuri jalan dengan berbekal google map. duduk di samping jalan bersama beberapa orang yang tidak kami kenal. sambil memperhatikan cewecowoksetengah cewesetengah cowo. Entahlah harus kami sebut apa mahluk-mahluk ciptaan Tuhan ini. kami hanya menebak-nebak dari wajah dan bagian tubuh yang mereka miliki. sambil sesekali tertawa mengikik karna kekonyolan ke-ga-ada-kerja-an kami ini.
mendiskusikan apa yang akan kami lakukan esok. Pattaya. tiba-tiba nama itu muncul. dan kami memutuskan untuk pergi ke sana besok pagi, ya pagi.... walau sebenernya jam 9 pagi itu bukan pagi lagi untukku. tapi... ya boleh lah :) Brikson memesan hostel lewat aplikasi di HP nya. aku memilih female room. dan Brikson memilih mix room. 

tiba-tiba notif Whatsapp di HP masuk. Bart adalah nama sang pengirim pesan. Ia adalah orang Thailand yang merupakan temannya temanku di Bandung. Bart adalah orang asli Thailand. Bart adalah host aku yang berikutnya. jadi aku berencana pindah tempa stay dirumahnya Bart. aku pindah dari rumah Uncle bukan karna ga betah tapi karena faktor Rumah bart yang strategis untuk aku ngebolang. 
Bart jemput aku, pergi ke rumah Uncle buat ambil tas backpack ku. tapi aku tetep nginep di tempat Uncle karna besok aku akan berangkat dari rumah Uncle ke Victory Monumen pake angkutan umum namanya Van ke Pattaya. 

akhirnya pada malam hari itu Brikson pulang ke Hotel-nya, aku di anter Bart ke rumah Uncle. 
di rumah Uncle ternyata aku dapat teman sekamar dari Korea namanya Jisun. panggilannya Sunny. Sunny adalah gadis Korea yang sama-sama lagi ngebolang. bedanya Sunny ngebolang 5 bulan, sedangkan aku cuma 5 hari :(
Sunny cerita banyaaaak... tentang tripnya ke Myanmar, Vietnam, Laos, China, Thailand. waktu aku tanya pernahkah ke Indonesia? dia jawab dengan mantap. "Yeah, sure! i've been there for about 6 months to do my intership program. and I think you have amazing lands. where everything grew as beautiful. i love your country, even you have crazy traffic jam everywhere. haha." kata Sunny sambil tertawa dengan mata sipitnya. "Haha... thank you for loving my country, you're always welcome to my country. and i hope i can reach your country too Sunny. because honestly i'd like to say that i've been addicted to watch your drama korean movies. haha." akhirnya aku ngaku kalo aku addict nonton drama korea yang bikin nangis bombay. haha. malam itu kami habiskan malam dengan bercerita dan berbagi pengalaman traveling kami masing-masing. dan disitu aku bilang kalo ini adalah perjalanan pertamaku keluar negeri. dan kali perdana passportku di cap immigrasi. Sunny melebarkan matanya yang sipit "WHAT??? it's your first trip to go abroad and you did it alone? how old are you? what a brave girl are you? how come? haha." aku hanya cengengesan "well. i'm 21. and don't ask me why can i reach this place. because i don't know.  haha. it just happens like clapping hands." kemudian kami mulai mengantuk dan memutuskan mengambil beberapa gambar bersama, karna aku tak yakin besok kami bisa bertemu lagi, karna besok aku memutuskan untuk tinggal dirumah Bart, dan Sunny juga akan pindah ke tempat couchsurfingnya yang lain dengan alasan yang sama.

Jisun dan Aku

 Bahagia rasanya bertemu dengan banyak orang baru hari ini berbagai karakter, latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda. membuat pikiran lebih terbuka, memperkaya pengalaman, menumpuk banyak teman baru, dan belajar menghargai sesuatu yang tidak kau dapatkan dalam tumpukan textbook manapun. hari sudah gelap... mari kita lanjutkan petualangan ini besok. selamat malam. ada cerita untuk besok di GET LOST IN THAILAND part 2

Posting Komentar